Corona dan Penyembuhan Bumi

Opini pada peringatan Hari Bumi 22 April 2020

Muhammad Arsyad

Dosen Fisika FMIPA Universitas Negeri Makassar, Peneliti Karst, dan Ketua Physical Society of Indonesia (PSI) Cabang Makassar

Pandemi Covid-19 menjadi peristiwa yang mengubah kehidupan manusia di seluruh dunia. Berawal dari kemunculan virus corona di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019, penyebarannya berlangsung sangat cepat hingga menjangkau hampir seluruh negara. Krisis kesehatan yang ditimbulkan kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi, sosial, dan lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di tengah pandemi tersebut, dunia memperingati Hari Bumi pada 22 April 2020 dengan tema “Climate Action” (Aksi Iklim). Tema ini mengingatkan bahwa selain menghadapi pandemi, manusia juga sedang menghadapi ancaman perubahan iklim yang tidak kalah serius. Hari Bumi sendiri diprakarsai oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970 sebagai gerakan global untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Pada tahun 2020, jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai sekitar 7,7 miliar jiwa dengan laju pertumbuhan sekitar 1,05% per tahun. Indonesia memiliki sekitar 272 juta jiwa penduduk dan diproyeksikan mencapai 305,65 juta jiwa pada tahun 2035, sehingga berpotensi menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar kelima di dunia setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan Nigeria. Di Sulawesi Selatan sendiri, jumlah penduduk telah mencapai sekitar 8,8 juta jiwa. Besarnya jumlah penduduk tersebut menjadi peluang melalui bonus demografi, tetapi sekaligus meningkatkan kebutuhan akan pangan, energi, air bersih, dan ruang hidup yang semakin besar.

Di sisi lain, kualitas lingkungan terus mengalami penurunan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa suhu rata-rata bumi telah meningkat sekitar 0,74 ± 0,18°C selama satu abad terakhir akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dinitrogen oksida (N₂O), dan ozon (O₃). Peningkatan konsentrasi gas-gas tersebut merupakan dampak dari penggunaan bahan bakar fosil dan aktivitas industri yang berkembang pesat sejak Revolusi Industri.

Laporan WWF Indonesia dan IPCC (1999) menunjukkan bahwa suhu rata-rata tahunan di Indonesia telah meningkat sekitar 0,3°C sejak tahun 1990. Bahkan, berbagai skenario perubahan iklim memperkirakan suhu bumi dapat meningkat antara 1,3°C hingga 4,6°C pada tahun 2100 apabila emisi gas rumah kaca tidak dapat dikendalikan. Dampaknya bukan hanya berupa perubahan cuaca dan meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi, tetapi juga mengancam keberlangsungan berbagai ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Meski demikian, di balik pandemi Covid-19 terdapat pelajaran penting. Pembatasan aktivitas masyarakat di berbagai negara menyebabkan penggunaan kendaraan bermotor, transportasi udara, dan aktivitas industri menurun drastis. Kondisi tersebut memberikan kesempatan bagi bumi untuk memulihkan kualitas lingkungannya.

Data citra satelit yang dipublikasikan berbagai lembaga internasional menunjukkan penurunan signifikan konsentrasi nitrogen dioksida (NO₂) di kawasan industri Tiongkok maupun Eropa selama masa lockdown. Pengamatan menggunakan instrumen TROPOMI pada satelit Copernicus Sentinel-5P selama periode 1 Januari hingga 11 Maret 2020 memperlihatkan penurunan emisi yang sangat nyata, termasuk di kawasan Lembah Po, Italia Utara. Fenomena ini menunjukkan bahwa berkurangnya aktivitas manusia secara langsung berdampak pada membaiknya kualitas udara.

Di sisi lain, hasil pemantauan satelit NASA juga menunjukkan bahwa bumi dalam satu dekade terakhir cenderung semakin hijau. Program penghijauan, gerakan Earth Hour 60+, penanaman pohon, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan memberikan kontribusi positif bagi keberlanjutan bumi. China dan India menjadi dua negara yang memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan tutupan vegetasi dunia.

Karena itu, menjaga bumi tidak harus selalu dimulai dengan langkah besar. Menanam pohon merupakan salah satu tindakan sederhana yang memberikan manfaat luar biasa. Pohon berperan menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menjaga kualitas udara, serta mempertahankan keseimbangan ekosistem. Rata-rata satu pohon dewasa mampu menghasilkan sekitar 118 kilogram oksigen setiap tahun, sementara dua pohon dewasa dapat memenuhi kebutuhan oksigen bagi satu keluarga kecil.

Pandemi juga mengajarkan pentingnya penggunaan sumber daya secara bijaksana. Kebiasaan mencuci tangan sebagai bagian dari protokol kesehatan tetap perlu diimbangi dengan penghematan air, misalnya dengan menutup keran saat menggunakan sabun. Kesadaran terhadap kesehatan dan kepedulian terhadap lingkungan harus berjalan beriringan agar tidak menimbulkan persoalan baru.

Hari Bumi bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat bahwa masa depan bumi berada di tangan manusia. Pandemi Covid-19 telah menunjukkan bahwa ketika aktivitas manusia berkurang, alam memiliki kesempatan untuk memulihkan dirinya. Pelajaran ini seharusnya menjadi momentum untuk membangun pola hidup yang lebih ramah lingkungan melalui pengurangan emisi, penghematan energi, penghijauan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Jika setiap individu mengambil bagian melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, maka bumi akan tetap mampu menopang kehidupan generasi sekarang maupun generasi mendatang. Menjaga bumi sesungguhnya berarti menjaga masa depan umat manusia.

Makassar, April 2020