
2018 Pohon untuk Bumi: Menanam Harapan bagi Generasi Mendatang
Opini pada peringatan Hari Bumi 22 April 2018
Muhammad Arsyad
Dosen Fisika FMIPA Universitas Negeri Makassar, Peneliti Karst, dan Ketua Physical Society of Indonesia (PSI) Cabang Makassar
Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April menjadi momentum penting untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Peringatan yang diprakarsai Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970 ini mengajak masyarakat dunia untuk mengambil tindakan nyata dalam menjaga bumi sebagai satu-satunya tempat kehidupan.
Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2018, sekitar 367 mahasiswa Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Fisika Bumi Universitas Negeri Makassar mengusung tema “2018 Pohon untuk Bumi” melalui gerakan penanaman pohon di wilayah pesisir Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Kabupaten Pangkep dipilih karena memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Dengan garis pantai sekitar 250 kilometer, lebih dari 100 pulau, kawasan terumbu karang yang luas, serta bentang alam karst yang menyatu dengan kawasan Karst Maros, Pangkep menjadi salah satu kawasan strategis bagi pelestarian lingkungan sekaligus pembangunan berkelanjutan.
Kawasan pesisir bukan hanya berfungsi sebagai batas wilayah negara, tetapi juga menjadi penyangga kehidupan masyarakat melalui sektor perikanan, pariwisata, dan berbagai jasa lingkungan lainnya. Potensi tersebut perlu dikelola secara bijaksana agar mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem.
Pembangunan berkelanjutan menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kehidupan sosial masyarakat. Namun demikian, kawasan pantai menghadapi berbagai ancaman, baik akibat faktor alam seperti gelombang, abrasi, perubahan iklim, maupun aktivitas manusia berupa industri, pertambangan, pembangunan permukiman, serta eksploitasi sumber daya yang tidak terkendali.
Karena itu, menjaga kawasan pesisir tidak cukup hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan masyarakat. Edukasi lingkungan sejak usia dini menjadi investasi penting agar generasi muda memiliki kepedulian dan rasa memiliki terhadap alam.
Melalui gerakan “2018 Pohon untuk Bumi”, mahasiswa KBK Fisika Bumi UNM melibatkan sekitar 20 SD/sederajat, 10 SMP/MTs, dan 7 SMA/SMK atau sekitar 2.000 siswa. Setiap siswa menanam satu pohon di lingkungan sekolah atau lokasi yang telah ditentukan secara serentak pada 22 April 2018.
Gerakan ini tidak hanya bertujuan menambah tutupan hijau, tetapi juga membangun sense of belonging terhadap lingkungan. Seseorang yang menanam pohon akan terdorong untuk merawatnya sehingga tumbuh kesadaran menjaga alam sepanjang hayat.
Pohon memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan. Selain menyerap karbon dioksida, pohon menghasilkan oksigen, menjaga keseimbangan iklim, mengurangi erosi, meningkatkan kualitas udara, serta menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup. Semakin banyak pohon yang ditanam dan dipelihara, semakin besar kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.
enanaman pohon seharusnya tidak berhenti pada peringatan Hari Bumi semata. Hari Bumi hanyalah pengingat bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab menjaga bumi melalui tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.
Gerakan sederhana seperti menanam dan merawat pohon merupakan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan kehidupan. Pohon yang ditanam hari ini akan memberikan manfaat bagi generasi mendatang melalui udara yang lebih bersih, lingkungan yang lebih hijau, dan bumi yang lebih lestari.
Semoga semangat “2018 Pohon untuk Bumi” menjadi inspirasi bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. Sebab, bumi bukan sekadar tempat kita hidup hari ini, melainkan warisan yang harus tetap lestari untuk anak cucu di masa depan.
Makassar, April 2018
